Dirty Vote

Dosen UNIRA Nilai Film Dirty Vote Sadarkan Masyarakat Tentang Adanya Kecurangan Pemilu 2024

Dosen Universitas Madura (UNIRA), Royyan Julian menilai film Dirty Vote menyadarkan publik tentang adanya kecurangan dalam Pemilu 2024

Editor: eben haezer
Youtube Dirty Vote
Poster film Dirty Vote 

TRIBUNMATARAMAN.COM - Film Dirty Vote kini menjadi perbincangan khalayak umum.

Film tersebut sukses trending dan viral di berbagai media sosial.

Dalam film tersebut, tiga pakar hukum tata negara menjadi narasumber yang mengungkapkan kebobrokan Pemilu 2024.

Baca juga: Polisi Larang Nobar Film Dirty Vote di Sanggar Ecoton Gresik

Viralnya film Dirty Vote ini juga memantik akademisi lain ikut bersuara.

Dosen Universitas Madura (UNIRA), Royyan Julian mengamati, setelah film Dirty Vote viral, banyak simpatisan paslon tertentu, termasuk tim kampanyenya yang menolak film tersebut karena menganggap film itu fitnah. 

Padahal kalau memang benar-benar ditonton, kata dia film itu objektif, sebab sasaran kritiknya bukan hanya terhadap paslon tersebut, melainkan juga mengena ketiga paslon. 

"Hanya saja, satu paslon memang mendapat porsi kritik jauh lebih banyak ketimbang dua lainnya karena rencana kecurangan itu sudah disusun secara terstruktur, sistematis, dan masif jauh sebelum pemilu menjelang," kata Royyan Julian, Selasa (13/2/2024).

Menurut dia, bagi yang mau objektif dan berpikir jernih, dengan melimpahnya data yang bisa diakses dengan mudah, tanpa film itu pun masyarakat sudah tahu betapa jahatnya paslon ini, dan kejahatan tersebut dilakukan dengan terang-terangan tanpa urat malu. 

Dia mengaku tidak yakin film Dirty Vote ini bisa mengubah pilihan masyarakat karena preferensi seseorang terhadap pilihannya didominasi emosi ketimbang akal budi. 

"Tapi, paling tidak, di tengah dunia kita yang kian menjauhi kejujuran, Dirty Vote menunjukkan bahwa kejujuran masih ada meski sayup," ulasnya.

Pendapat dosen yang juga penulis buku ini, rezim yang kini berkuasa dan mendukung paslon tertentu menunjukkan akhlak anti intelektual. 

Pengamatan dia, yang paling tampak dari perilaku tersebut, yaitu diabaikannya suara-suara akademia. 

Apalagi lebih dari 50 kampus mengecam pemerintah dan kecaman itu cuma dianggap angin lalu, bahkan dituduh partisan. 

"Sikap anti intelektual ini ternyata juga menjangkiti banyak orang, terutama pendukung yang mendapat sasaran kritik paling berat, dengan menuduh macam-macam film Dirty Vote. Padahal, sineas dan aktor-aktor film itu memiliki rekam jejak yang baik dengan reputasi kepakaran yang tak diragukan," tutupnya.

(kuswanto ferdian/tribunmataraman.com)

editor: eben haezer

 

Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved