Rabu, 15 April 2026

Berita Terbaru Kabupaten Trenggalek

Griya Batik Tulis Rahayu, Workshop Batik Tulis Khas Trenggalek yang Paling Tua

Griya Batik Tulis Rahayu adalah workshop batik tulis khas Trenggalek yang paling tua di Trenggalek. Mari intip ke dalamnya

Penulis: Sofyan Arif Chandra | Editor: eben haezer
tribunmataraman.com/sofyan arif candra
Ilma Abidina Cahya Mencanting Batik di Workshop Griya Batik Tulis Rahayu, Jalan KH Ahmad Dahlan, Kelurahan Sumbergedong, Kecamatan/Kabupaten Trenggalek 

TRIBUNMATARAMAN.COM - Di tengah berkembangnya gaya berpakaian yang semakin modern, kain batik khas Trenggalek punya tempat tersendiri di hati masyarakat.

Salah satu workshop batik tertua di Bumi Menak Sopal, yaitu Griya Batik Tulis Rahayu yang berlokasi di Jalan KH Ahmad Dahlan, Kelurahan Sumbergedong, hingga saat ini terus berproduksi.

Bahkan dengan mempertahankan motif batik khas Trenggalek, banyak penggemar Batik Tulis Rahayu yang datang dari kota besar, mulai dari Surabaya, Solo, hingga Jakarta.

Baca juga: Kisah Eni Setiawati, Perajin Batik asal Kanigoro Melestarikan Batik Tutur Khas Blitar

Pengelola Griya Batik Tulis Rahayu, Ilma Abidina Cahya, mengatakan batik Trenggalek punya ciri khas bunga cengkih dan Tari Turonggo Yakso.

"Di setiap ornamen batik tradisional klasik pasti dikasih kombinasi bunga cengkih, selain itu ada ornamen Batik Turonggo Yakso yang merupakan tari tradisional Trenggalek," ucapnya, Senin (2/10/2023).

Griya Batik Tulis Rahayu sendiri konsisten menambahkan ornamen tersebut pada mayoritas motif batik yang diproduksi.

Dina, sapaan akrab Ilma Abidina Cahya, juga tidak banyak membuat perubahan motif karena salah satu ciri khas keotentikan batik tulis adalah menjaga motif yang sudah turun temurun digunakan.

Saat ini lebih kurang ada 50 motif tradisional yang tetap ia lestarikan mengikuti langkah kakeknya, Soekono, yang merintis usaha Batik Tulis Rahayu sejak tahun 1972.

"Alhamdulillah peminat selalu ada, setiap bulan minimal 100 pcs terjual. Galeri kita cuma di Trenggalek, tapi kita juga titipkan barang di beberapa kota, ada Tulungagung, Ponorogo, Surabaya, dan Jakarta," ucap lulusan Universitas Airlangga tahun 2018 tersebut.

Selain itu, ia juga menggenjot penjualan secara daring melalui loka pasar mulai dari Shoppee, Tiktok, hingga Tokopedia.

Walaupun penjualan melalui loka pasar ini belum sebesar penjualan konvensional, menurutnya penjualan melalui daring lebih menguntungkan.

"Salah satunya karena uang yang bisa dicairkan saat itu juga jadi cahsflownya lebih lancar. Kalau titip di toko orang, kita baru bisa ambil uangnya secara berkala, sedangkan setiap hari kita berproduksi," tambahnya.

Harga batik di Griya Batik Tulis Rahayu sendiri bervariasi mulai dari Rp 200 ribu, Rp 255 ribu, sampai Rp 750 ribu bahkan Rp 1 juta. Motif dan proses pembuatan sangat mempengaruhi harga batik tersebut.

"Saat ini kita punya 15 perajin, setiap satu perajin paling banyak bisa memproduksi 3 lembar kain batik dalam waktu satu pekan, tergantung motif dan perpaduan warnanya, ada juga yang satu lembar butuh satu bulan" ucap Dina.

Sementara itu, Soekono bersyukur hingga saat ini usaha batiknya masih bisa berjalan. Ia teringat satu-satunya semangat ia dalam menjalani usaha tersebut adalah tidak ingin batik Trenggalek mati.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved