Berita Terbaru Kabupaten Tulungagung
Dua Desa di Tulungagung Terserang Chikungunya, Diduga Faktor Mobilitas Manusia Selama Arus Mudik
Kasus demam chikunguya kembali merebak di Kabupaten Tulungagung, kali ini di Desa Samir, Kecamatan Ngunut dan Desa Jatimulyo, Kecamatan Kauman.
Penulis: David Yohanes | Editor: eben haezer
TRIBUNAMTARAMAN.COM - Kasus demam chikunguya kembali merebak di Kabupaten Tulungagung, kali ini di Desa Samir, Kecamatan Ngunut dan Desa Jatimulyo, Kecamatan Kauman.
Diduga merebaknya demam chikungunya ini dipicu mobilitas penduduk dari luar daerah yang masuk Tulungagung selama arus mudik.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung telah melakukan pengasapan (fogging) untuk memutus mata rantai penularan.
“Kami berharap, setelah fogging tidak ada lagi nyamuk dewasa yang menjadi vektor penyebaran demam chikungunya,” terang Kabid Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinkes Tulungagung, Didik Eka.
Didik menambahkan, demam chikungunya disebabkan virus chikungunya yang disebarkan oleh oleh nyamuk aedes aegypti dan aedes albopictus.
Masa inkubasi virus ini cukup pendek, sekitar 4 hari saja.
Sementara jangkauan terbang nyamuk dewasa hanya sekitar 100 meter.
“Jadi kalau ada kasus dengan radius lebih dari 100 meter, diperkirakan ada carrier virus. Ini dimungkinkan manusia yang melakukan mobilitas antar daerah,” ungkap Didik.
Dalam kasus di Desa Jatimulyo ditemukan 21 orang penderita dan di Desa Samir ada 13 warga yang terserang demam chikungunya.
Dari data epidemiologi yang sudah dilakukan, para pasien ini menyebar sehingga menguatkan adanya orang pembawa virus.
Hal ini memungkinkan terjadi, karena banyak warga dari berbagai kota pulang kampung ke Tulungagung saat arus mudik lebaran.
“Carrier ini tidak harus sakit, bisa saja dia kondisinya sehat tapi membawa virus di tubuhnya. Saat ada nyamuk yang menjadi vektor, maka virusnya akan menyebar,” papar Didik.
Selain melakukan fogging, Dinkes juga meminta warga melakukan gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).
Masih menurut Didik, pada awal April 2023 kasus chikungunya sudah mereda karena saat itu curah hujan sudah jarang.
Namun menjelang akhir April curah hujan kembali meningkat, sehingga banyak tempat berkembang biak nyamuk.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/mataraman/foto/bank/originals/fogging-chikunguya.jpg)