Senin, 20 April 2026

Berita Terbaru Kabupaten Kediri

Simbol Merah Putih di Makam Tan Malaka di Kabupaten Kediri Hilang

Plat berwarna Merah Putih di makam Tan Malaka di desa Selopanggung, kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, hilang. 

Penulis: Didik Mashudi | Editor: eben haezer
ist
Makam Tan Malaka yang masih dihiasi dengan pelat Merah Putih yang terbuat dari logam. Kini pelat Merah Putih itu hilang. 

TRIBUNMATARAMAN.COM - Plat berwarna Merah Putih di makam Tan Malaka di desa Selopanggung, kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, hilang. 

Di makam Tan Malaka, plat Merah Putih itu sebelumnya dibuat dari logam. 

Sejauh ini belum diketahui penyebab hilangnya simbol merah putih di pusara makam Tan Malaka. Yang terlihat di pusara hanya kendi atau wadah tempat air minum.

Imam Mubarok, Ketua Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kabupaten Kediri mengungkapkan, pada Selasa (21/2/2023) melakukan ziarah dan tahlil di makam Tan Malaka

Karena tanggal 21 Februari 2023 tepat 74 tahun Tan Malaka gugur di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen Kabupaten Kediri.  

"Saat itu sebenarnya ada yang janggal saat berdoa di atas pusara, tapi saya belum berfikir, sebab agak buru-buru karena cuaca sedang mendung,” ungkap Imam Mubarok, Rabu (22/2/2023).

Setelah melihat pada dokumen foto miliknya ternyata simbol merah putih di pusara makam Tan Malaka sudah tidak ada lagi. 

"Entah hilang atau sengaja dihilangkan saya tidak paham, apapun beliau Tan Malaka ini adalah Pahlawan Kemerdekaan  sesuai Kepres 53/1963 tanggal 28 Maret,” ungkapnya.

Tan Malaka yang dijuluki sebagai Bapak Republik adalah pucuk penghulu (raja) di kampungnya, Nagari Pandam Gadang, Kecamatan Gunung Omeh, Kabupaten Lima Pukuh Kota, Sumatera Barat.

Tan Malaka meninggal diduga dibunuh oleh tentara republik pada 21 Febuari 1949 di Desa Selopanggung,  Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri.

"Posisi Tan Malaka sangatlah final dan penting bagi kaumnya sendiri. Di wilayah adat dia membawahi 142 ninik mamak atau kaum, di Kelarasan Bungo Setangkai (tiga nagari: Pandam Gadang, Suliki, dan Kurai). Adatnya dari Agam, mainan urang lima puluh Kota,” jelasnya.

(didik mashudi/tribunmataraman.com)

editor: eben haezer

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved