Berita Tulungagung

Perjuangan Sandy Suryawan Menghidupkan Lagi Barongsai di Klenteng Tjoe Tik Kiong Tulungagung

Sandy Suryawan berusaha menghidupkan lagi kesenian barongsai di Klenteng Tjoe Tik Kiong setelah sempat mati suri karen pandemi

Penulis: David Yohanes | Editor: eben haezer
tribunmataraman.com/david yohanes
Sandy Suryawan saat melatih beberapa anak bermain barongsai untuk persiapan Imlek. 

TRIBUNMATARAMAN.COM - Sandy Suryawan sedang memberi instruksi kepada sepasang pemain barongsai di depannya, saat jurnalis Tribun Mataraman mengunjunginya beberapa waktu lalu. 

Ayah satu anak ini harus berulang kali mengulangi instruksinya sampai sepasang pemain barongsai melakukan gerakan yang benar. Maklum, yang dilatihnya adalah anak-anak dengan usia tertua baru 9 tahun. 

Latihan yang diadakan di ruangan beranda Klenteng Tjoe Tik Kiong ini dipersiapkan untuk menyambut tahun baru Imlek nanti.

Pasangan pemain barongsai belia ini akan menjadi penyambut umat yang akan melakukan doa bersama malam Imlek. Keduanya akan bermain pada Sabtu (20/1) sekitar pukul 20.00 WIB. 

"Paling mereka akan main 5-10 menit saja sebagai penyambut tamu. Mereka akan jadi bagian upacara menyambut Imlek," ucap Sandy selepas latihan. 

Melatih anak-anak ini, bagi Sandy merupakan hal yang istimewa. Sebab klenteng satu-satunya di Kabupaten Tulungagung ini sudah tidak punya klub barongsai. Klub yang dimiliki klenteng sudah buyar sekitar dua tahun lalu, saat awal pandemi Covid-19. 

"Saat itu semua serba dibatasi, barongsai juga tidak bisa tampil. Akhirnya mereka bubar," kenangnya.

Karena itu melatih anak-anak bermain barongsai ini menjadi awal rintisan klub barongsai yang baru. Sandy merasa terbeban karena dirinya pernah aktif bermain dan melatih barongsai di Madiun, sekitar tahun 90-an. Setelah pindah ke Tulungagung, Sandy ingin menggunakan ilmunya untuk melatih barongsai kecil. 

"Harapannya ini tahap awal, kami buat dulu pemain barongsai anak-anak SD. Setelahnya akan kami umumkan pembentukan tingkat SMP dan SMA," sambung Sandy. 

Tekad Sandy ini karena keprihatinannya melihat barongsai mengalami kemunduran. Meski pun ada kelompok barongsai, itu pun adanya di luar klenteng. Biasanya merek diundang untuk tampil atau mengamen di saat Imlek. 

Mereka bukan bagian dari Klenteng Tjoe Tik Kiong. Padahal menurutnya, barongsai ini perlu dilestarikan sebagai bagian dari budaya anak bangsa. Ia ingin nantinya barongsai tidak hanya dimainkan oleh etnis Tionghoa. 

"Barongsai bukan hanya milik orang Tionghoa. Kesenian ini bisa dimainkan oleh lintas etnis," ucapnya. 

Karena itu ke depan, selepas kelompok SD sebagai pionir ini dianggap cukup, rekrutmen akan dilakukan terbuka. Sandy akan membuat flyer pengumuman rekrutmen untuk siapa saja yang tertarik bermain barongsai. Diharapkan ke depan warga sekitar klenteng ikut serta menjaga kelestarian barongsai.

Sandy mempersiapkan klub barongsai untuk ikut kompetisi. Menurutnya, dengan proyeksi ikut kompetisi, maka ada motivasi lebih untuk sebuah klub barongsai. Bukan sekedar untuk kebutuhan pentas dan hiburan.

Halaman
12
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved