Berita Kediri

PWNU Jatim Menggelar Halaqoh Bu Nyai Inspiratif di Ponpes Al Falah Ploso

PWNU Jawa Timur menginisiasi serial perdana Halaqoh Bu Nyai Inspiratif yang  akan berlangsung di Ponpes Al-Falah, Ploso, Kabupaten Kediri

Penulis: Didik Mashudi | Editor: eben haezer
tribunmataraman.com/didik mashudi
KH Abdussalam Shohib, Wakil Ketua PWNU Jawa Timur bersama Nur Muhyar, Ketua Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Kota Kediri. 

TRIBUNMATARAMAN.COM - Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur menginisiasi serial perdana Halaqoh Bu Nyai Inspiratif yang  akan berlangsung di Ponpes Al-Falah, Ploso, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Kamis (17/11/2022). 

Event ini bertujuan untuk mengangkat kisah-kisah inspiratif dari sisi perempuan atau Ibu Nyai, yang banyak diasumsikan hanya mengikuti jejak suami sebagai pengasuh pesantren alias mengajar ngaji. 

KH Abdussalam Shohib (Gus Salam), Wakil Ketua PWNU Jawa Timur selaku Ketua panitia acara menjelaskan, peran Bu Nyai sangat vital bagi pondok pesantren. 

"Seperti Bu Nyai Rodliyah Djazuli, yang menjadi topik Halaqoh Bu Nyai Inspiratif #1. Beliau ini orang di balik layar hingga Ponpes Al-Falah ini menjadi besar seperti sekarang”, ungkap KH Abdussalam Shohib, Rabu (16/11/2022).

Gus Salam menjelaskan, Bu Nyai Rodliyah yang tak lain cucu dari KH Mesir Durenan ini pernah berpesan pada suaminya untuk fokus mengaji. 

“Dalam bahasa Indonesia kurang lebih begini: Sudah, njenengan (Anda) mengajar atau ngaji saja. Saya yang ngurusi uang saku (keuangan),” jelas kiai muda Pengasuh Pondok Pesantren Manbaul Ma’arif Denanyar, Jombang. 

Bu Nyai Rodliyah menikah dengan KH Ahmad Jadzuli pada 1930, atau lima tahun setelah Ponpes Al-Falah berdiri dalam bentuk madrasah yang pada awalnya tidak memiliki gedung. Sehingga proses belajar mengajar bertempat di serambi masjid. 

“Ucapan tersebut dibuktikan oleh Bu Nyai Rodliyah, untuk memenuhi kebutuhan keluarga beliau memiliki usaha kecil-kecilan mulai berjualan sayur mayur di depan rumah, berdagang kain keliling desa dengan berjalan kaki sembari menggendong kain, dan membuka warung untuk kebutuhan santri," jelasnya.

Sementara untuk mencari nafkah bagi keluarga, Bu Nyai Rodliyah juga aktif menata organisasi kepengurusan pondok, mengurus keuangan dan anggaran belanja. 

“Beliau  bisa dibilang sosok multitasking (serba bisa); sebagai ibu rumah tangga, manager, bendahara hingga keamanan pondok,” jelas Gus Salam yang mengutip buku Nyai Rodliyah Djazuli – Ummul Ma’had Al-Falah Ploso Kediri.

Ketua Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Kota Kediri, Nur Muhyar menjelaskan, event Halaqoh Bu Nyai Inspiratif ini adalah gagasan brilian dari PWNU Jatim, agar peran besar Ibu Nyai di pesantren-pesantren di lingkungan Nahdlatul Ulama tidak dikecilkan atau hanya istri Kiai, yang dianggap hanya bisa mengaji. 

“Faktanya pada masa penjajahan Jepang, Ibu Nyai Rodliyah bahkan pernah meminta KH Ahmad Jazuli untuk melepas atribut pemerintahan Jepang saat dipaksa menjadi camat. Karena Bu Nyai tidak mau proses belajar mengajar di pesantren terganggu. Intinya beliau (Bu Nyai) mengambil alih tugas untuk mencukupi ekonomi keluarga dan pesantren," ungkap Nur Muhyar.

(didik mashudi/tribunmataraman.com)

editor: eben haezer
 

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved