Berita Terbaru Kabupaten Tulungagung

Data Inflasi September 2024, di Tulungagung Dinilai Pj Bupati Heru Suseno Masih Aman

Menurut Pj Bupati Tulungagung, Heru Suseno, secara umum Data Inflasi September 2024 masih relatif aman

Editor: faridmukarrom
David Yohanes
Operasi pasar penjualan beras SPHP untuk stabilitas harga dan menjaga pasokan. 

TRIBUNMATARAMAN.COM | TULUNGAGUNG - Kabupaten Tulungagung mengalami deflasi 0,06 persen dari Bulan Agustus ke September 2024. 

Sedangkan jika dilihat dari Januari hingga September 2024, terjadi inflasi 1,81 persen.

Angka inflasi ini terendah dibanding bulan-bulan sebelumnya di tahun 2024. 

Inflasi tertinggi tercatat di Bulan Mei yang menyentuh angka 3,38 persen.

Menurut Pj Bupati Tulungagung, Heru Suseno, secara umum seluruh stok bahan kebutuhan dalam kondisi tercukupi. 

“Stok beras, cabai, bawang, jagung semua dalam kondisi tercukupi. Kami pastikan ketersediaannya sebagai persiapan menjelang Nataru (Natal dan Tahun Baru),” jelasnya. 

Baca juga: Gegara Pipa PDAM Bocor, Terjadi Tanah Longsor di Bendungan Trenggalek Hingga Putus Akses Jalan

Jika mencermati data Januari sampai September 2024, penyumbang inflasi di Kabupaten Tulungagung justru bukan bahan pokok.

Inflasi justru banyak dipicu emas dengan 0,23 persen, disusul kopi 0,31 persen, minyak goreng 0,08 persen, tokok 0,07 persen dan mobil 0,06 persen. 

Melihat barang-barang pemicu inflasi ini memberi gambaran ekonomi Tulungagung mempunyai daya beli yang kuat. 

“Emas milsanya, artinya orang Tulungagung punya daya beli yang bagus. Kemudian kebiasaan ngopi juga turut menyumbang inflasi,” sambung Heru.

Kebiasaan ngopi warga Tulungagung tidak lepas dari menjamurnya warung kopi di seluruh wilayah.

Ngopi sudah menjadi kebutuhan sehingga kopi menjadi salah satu komoditi yang dibutuhkan. 

Sementara penyumbang deflasi adalah cabai rawit -0,23 persen, cabai merah -0,19 persen, telur ayam -0,11 persen dan tomat -0,07 persen. 

Data per bulan, deflasi  terjadi pada Bulan Juni, Juli, Agustus dan September.

Namun menurut Heru, kondisi deflasi berturut-turut ini bukan pertanda penurunan daya beli. 

Saat ini ketersediaan barang-barang pemicu deflasi ini melimpah, sementara kebutuhan pasar tetap atau tidak bertambah. 

“Daya beli kita masih cukup, tidak perlu khawatir. Ini melihat barang-barang pemicu inflasi bukan kebutuhan pokok,” pungkasnya. 

Dapatkan informasi lainnya di Googlenews, klik : Tribun Mataraman

(tribunmataraman.com)

Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved