Perampokan Nenek Penjual Kerupuk

Nenek Penjual Kerupuk Korban Perampokan di Pamekasan Sudah Ikhlas Bila Meninggal di Tangan Bandit

Nenek penjual kerupuk di Pamekasan dirampok kawanan pria bermobil. Di dalam mobil, korban mengaku sudah pasrah bila harus mati di tangan perampok

Editor: eben haezer
muchsin rasjid
Sri Warnindah, nenek penjual kerupuk yang menjadi korban perampokan di Pamekasan, Madura, saat ditemui di kediamannya. 

TRIBUNMATARAMAN.COM - Sri Warnindah, nenek penjual kerupuk di Pamekasan, dirampok sekawanan pria bermobil, Selasa (23/1/2023). 

Saat itu, pelaku menariknya ke dalam mobil, lalu mempreteli semua perhiasannya, kemudian membuangnya ke jalan. 

Ditemui di kediamannya, nenek Sri Warnindah (63) menceritakan detik-detik perampokan itu terjadi. 

Baca juga: Nenek Penjual Kerupuk di Pamekasan Dirampok, Korban Dimasukkan Dalam Mobil Lalu Emasnya Dipreteli

“Saat kejadian itu, dalam hati saya membaca kalimah sahadat berulang-ulang. Dalam benak saya, pelaku akan membunuh saya. Sehingga apapun yang terjadi, saya pasrah kepada Allah. Matipun saya rela dan ikhlas,” kata Ny Sri Warnindah. 

Sambil menahan sakit akibat lengan kirinya patah dipelintir pelaku, nenek lima cucu itu menceritakan, pagi itu sebelum kejadian ia jalan kaki membawa kerupuk ikan yang akan diantarkan ke pelanggannya, yang terletak di dekat gereja di pinggir jalan. Jaraknya berkisar 200 meter ke arah timur rumahnya.

Tiba di pinggir jalan, depan pintau pagar sebelah barat, eks Dinas Koperasi (Diskop) Usaha Kecil Menengah (UKM) dari dalam mobil Avanza warna silver plat nomor B 2673 terdengar seseorang mengenakan sorban hitam kombinasi biru memanggil dirinya dan menanyakan alamat seseorang.

“Apakah ibu kenal dengan nama kiai dari Nurul Hikmah. Lantas korban menjawab kalau kiai yang bapak tanyakan tinggalnya di sana,” jawab korban, sambil tangannya menunjuk ke arah barat.

Baca juga: Kronologi dan Detik-detik Menegangkan Perampokan Nenek Penjual Kerupuk di Pamekasan

Selanjutnya, seorang pria muda menarik tangannya ke dalam mobil dipaksa duduk diapit pria bersorban dan pemuda itu. Kemudian mobilnya langsung tancap gas ke arah timur.

Di dalam mobil, pelaku di samping kiri berusaha merasmpas perhiasan yang dipakainya. Sementara pria bersorban memegangi tangan kannanya.

Korbanpun berontak dan berusaha melawan, berteriak sekerasnya minta tolong, sambil kakinya menendang pintu mobil dan kursi sopir dengan harapan, laju mobilnya oleng. Tetapi usaha korban sia-sia.

“Kalau kamu berteriak, mati kamu, mati kamu,” kata korban menirukan ancaman pria bersorban.

Rupanya korban sudah tidak peduli dengan gertakan pelaku dan balas menghujat. 

“Waktu saya mempertahankan kalung yang dijarah, lengan saya dipelintir hingga sakitnya luar biasa. Dan rupanya pria bersorban itu terus komat-kamit baca mantra, agar saya diam. Tapi saya terus berontak,” ujar korban.

Begitu mobil berhenti dan tubuhnya didorong ke luar ke pinggir jalan, ia berdiri melihat mobil itu putar balik lari ke arah utara. Ia sempat melihat dan mengingat plat nomor mobilnya. Kemudian korban berteiak minta tolong kepada warga yang melintas.

Halaman
12
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved