Berita Nganjuk

Pelajar SD yang Rudapaksa Adik Kelas di Nganjuk Akan Dibina Selama 6 Bulan di Rumah Singgah

Anak SD pelaku rudapaksa terhadap adik kelasnya di Nganjuk tidak ditahan, tapi akan menjalani masa 6 bulan pembinaan di rumah singgah

Penulis: Ahmad Amru Muiz | Editor: eben haezer
tribunmataraman.com/ahmad amru muiz
Kabid PPPA Dinsos PPPA Kabupaten Nganjuk, Agus Sugianto didampingi anggota tim Satgas PPA Kabupaten Nganjuk. 

TRIBUNMATARAMAN.COM - Tim Satgas Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kabupaten Nganjuk memutuskan, pelajar SD yang melakukan rudapaksa terhadap adik kelasnya, tidak ditahan. 

Anak tersebut ditempatkan dalam program pendidikan, pembinaan, dan pembimbingan di Instansi Pemerintah.

Ini dikarenakan pelaku pencabulan yang terjadi di Kecamatan Baron Kabupaten Nganjuk tersebut masih di bawah usia 12 tahun sehingga ditempatkan dalam Program selama 6 bulan di rumah singgah di bawah Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA) Kabupaten Nganjuk.

Kepala Dinas Sosial PPPA Kabupaten Nganjuk, Nafhan Tohawi melalui Kepala Bidang PPPA, Agus Sugianto membenarkan keputusan dari tim Satgas PPA Kabupaten Nganjuk.

Baca juga: Terpengaruh Video di Internet, Anak Kelas 3 SD Rudapaksa Anak Kelas 1 SD Saat Pingsan

Satgas PPA Kabupaten Nganjuk tersebut beranggotakan Unit PPA Polres Nganjuk, Bapas Kediri, Peksos Kabupaten Nganjuk, WCC (Women Crisis Center) Kabupaten Nganjuk telah menggelar pertemuan terkait kasus anak cabuli anak.

"Dalam rapat tim Satgas PPA tersebut diambil keputusan terhadap pelaku pencabulan untuk dilakukan pendidikan, pembinaan, dan Pembimbingan di bawah Dinsos PPA karena masih usia di bawah 12 tahun," kata Agus Sugianto, Kamis (29/9/2022).

Dijelaskan Agus Sugianto, sejak awal kasus pencabulan yang pelaku dan korban masih anak-anak di bawah umur tersebut Dinsos PPPA Kabupaten Nganjuk sudah langsung terlibat.

Yakni dengan menempatkan pelaku tersebut di rumah singgah di bawah pengelolaan Dinsos PPPA Nganjuk. Hal itu dilakukan untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan terjadi pada pelaku yang masih berusia di bawah umur dan juga untuk mempermudah penyidikan pelaku di bawah umur.

Disamping itu, UPT PPPA Provinsi Jawa Timur juga cepat turun ke rumah korban dan menemui orang tua korban untuk memberikan pendampingan psikis serta memberikan bantuan sosial dan paket mainan anak. Hal itu dilakukan agar tidak terjadi traumatik berkepanjangan dari korban dan orang tuanya.

"Alhamdulillah semuanya berjalan bagus dan korban serta kedua orang tuanya sudah lebih baik kondisi psikisnya setelah bertemu dengan UPT PPPA Provinsi Jatim dan tim Dinsos PPPA Nganjuk yang kami bentuk, dan kami terus akan memberikan pendampingan tersebut," tandas Agus Sugianto.

Untuk penyelesaian dari kasus pencabulan anak terhadap anak tersebut, menurut Agus Sugianto, dimungkinkan akan dilakukan yang sifatnya kesepakatan. Baik pihak korban dan pelaku nantinya akan dilakukan pertemuan dalam tahap penyelesaian persoalan tersebut. Ini dikarenakan semuanya masih berstatus siswa Sekolah Dasar.

Terlebih lagi, tambah Agus Sugianto, pelaku pencabulan tersebut ayahnya sudah meninggal dunia atau sebagai anak yatim. Pelaku sebenarnya tidak memiliki Handphone untuk melihat film cabul, tapi melihat film tersebut di gawai milik temannya.

"Jadi kondisi itulah yang masih terus kami dalami untuk mengetahui siapa teman pelaku yang meminjami handphone yang menampilkan film cabul tersebut untuk juga diberikan pembinaan nantinya," ujar Agus Sugianto.

Pelaku sendiri, imbuh Sugianto, dengan usia di bawah 12 tahun tersebut juga belum dikhitan. Dimana dari hasil pengakuan pelaku kalau melakukan cabul dengan jarinya kepada korban. Jadi disitu dimungkinkan tidak ada kekerasan seksual layaknya suami isteri tetapi pencabulan saja.

"Untuk itulah, kami akan terus melakukan pendampingan terhadap pelaku dan korban karena semuanya masih anak-anak di bawah umur. Dan semoga persoalan tersebut bisa cepat diselesaikan sesuai dengan ketentuan yang ada," tutur Agus Sugianto.

(Achmad Amru Muiz/tribunmataraman.com)

 

 

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved