Berita Blitar

Harga Kebutuhan Pokok Normal, Daya Beli Masyarakat di Pasar Kota Blitar Turun 

Sejumlah pedagang di pasar tradisional Kota Blitar mengeluh tingkat penjualan kebutuhan pokok turun meski sebenarnya harganya cenderung masih stabil

Penulis: Samsul Hadi | Editor: eben haezer
tribunmataraman.com/samsul hadi
Pedagang telur sedang menunggu pembeli di Pasar Templek, Kota Blitar, Kamis (22/9/2022). 

TRIBUNMATARAMAN.COM -  Sejumlah pedagang di pasar tradisional Kota Blitar mengeluh tingkat penjualan kebutuhan pokok turun beberapa pekan terakhir ini. 

Padahal, harga sejumlah kebutuhan pokok cenderung normal, malah sebagian harga kebutuhan pokok justru turun pasca kenaikan harga BBM

Seperti diungkapkan Khoirul, pedagang telur ayam di Pasar Templek, Kota Blitar, Kamis (22/9/2022). 

Khoirul mengatakan, tingkat penjualan telur menurun hampir satu bulan ini. Ia yang biasanya bisa menjual telur 50 kilogram per hari, kini hanya mampu menjual telur 30 kilogram per hari. 

Padahal, menurutnya, harga telur sejak sebulan terakhir ini cenderung stabil. Malah, sekarang harga telur turun. 

Harga telur yang sebelumnya Rp 25.000 per kilogram, sekarang turun menjadi Rp 24.000 per kilogram. 

"Penjualannya agak lambat (sepi) sekitar sebulan terakhir ini. Padahal harganya stabil, malah hari ini harganya turun," kata Khoirul. 

.Menurutnya, kondisi penjualan sepi tidak hanya untuk komoditas telur. Tapi, penjualan kebutuhan pokok lainnya juga ikut sepi. 

"Kondisinya hampir merata di semua pedagang kebutuhan pokok, penjualannya sepi," ujarnya. 

Hal sama diungkapkan, pedagang bumbu dapur di Pasar Legi, Kota Blitar, Ali Mahmud. Mahmud mengatakan daya beli masyarakat menurun sudah tiga pekan ini. 

Padahal, menurutnya, harga bumbu dapur seperti cabai dan bawang merah cenderung stabil. Harga cabai rawit malah turun dari sebelumnya Rp 75.000 per kilogram, sekarang harganya menjadi Rp 55.000 per kilogram.

"Di kios saya yang paling ramai penjualan cabai rawit. Ini penjualannya turun. Biasanya, sehari bisa menjual 40 kilogram, sekarang hanya 10 kilogram sampai 20 kilogram. Padahal harganya turun," katanya. 

Mahmud tidak tahu apa penyebab menurunnya tingkat penjualan di pasar belakangan ini. "Tidak tahu, apakah karena dampak kenaikan BBM atau soal lain. Yang jelas, belakangan ini daya beli masyarakat turun," ujarnya.

(samsul hadi/tribunmataraman.com)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved