Berita Trenggalek

BPBD Mencatat Sudah Ada 150 Bencana Alam Terjadi Sejak 6 Bulan Terakhir di Trenggalek

Kasus bencana alam di Kabupaten Trenggalek sepanjang Januari hingga Juni mencapai lebih dari seratus kasus.

Penulis: Aflahul Abidin | Editor: faridmukarrom
tribunmataraman.com/aflahul abidin
Tanah longsor yang menjebolkan dinding rumah warga di Kabupaten Trenggalek. 

TRIBUNMATARAMAN.COM | TRENGGALEK - Kasus bencana alam di Kabupaten Trenggalek sepanjang Januari hingga Juni mencapai lebih dari seratus kasus.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Trenggalek mencatat, jumlah kejadian bencana di Trenggalek mencapai 150 kasus.

Dari seluruh kejadian itu, seorang warga meninggal dunia dan puluhan rumah rusak dari ringan hingga sedang.

Sekretaris BPBD Kabupaten Trenggalek Tri Puspitasari menjelaskan, kejadian bencana paling dominan adalah tanah longsor dengan 59 kasus.

Semester pertama 2022 yang didominasi musim penghujan membuat kejadian tanah longsor mendominasi.

"Disusul gempa bumi, yang jumlahnya 38 kali," kata Puspitasari, Jumat (19/8/2022).

Soal gempa bumi ini, mayoritas yang terjadi merupakan gempa dengan kekuatan ringan. Mayoritas gempa bumi yang getarannya tak tak dirasakan oleh masyarakat.

Bencana yang juga tak kalah sering terjadi adalah angin kencang (26 kasus) dan banjir (25 kasus).

Sama seperti tanah longsor, kejadian bencana angin kencang dan banjir juga dipangaruhi oleh kondisi cuaca.

"Terakhir, ada dua kejadian tanah gerak," katanya.

Tanah longsor yang menjebolkan dinding rumah warga di Kabupaten Trenggalek.
Tanah longsor yang menjebolkan dinding rumah warga di Kabupaten Trenggalek. (tribunmataraman.com/aflahul abidin)

Seluruh wilayah kecamatan di Kabupaten Trenggalek yang berjumlah 14 juga tak luput dari lokasi bencana.

Data BPBD menunjukkan, wilayah pegunungan menjadi daerah yang paling banyak diterpa bencana, terutama tanah longsor.


Daerah yang tercatat paling banyak terjadi bencana, yakni Kecamatan Tugu (16 kasus), Pule (15 kasus), dan Munjungan (12 kasus).


Kasus bencana yang memakan korban jiwa, yakni tanah longsor di Desa Bangun, Kecamatan Munjungan, awal Mei.


Dari kejadian itu, remaja 24 tahun tewas tertimbun material longsor di rumahnya.


Puspitasari menjelaskan, ancaman bencana masih terjadi pada paruh kedua 2022.


Hal itu terbukti, beberapa kasus tanah longsor dan banjir sudah terjadi pada Juli-Agustus.


Maka dari itu, pihaknya mengimbau agar masyarakat selalu waspada terhadap bencana.


Terutama bagi warga yang tinggal di daerah rawan, yakni di sekitar tebing dan daerah pegunungan.

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved