Konflik Gus Samsudin Vs Pesulap Merah

Pengacara Gus Samsudin Tegaskan Padepokan Nur Dzat Sejati Hanya Hentikan Aktivitas Sementara

Kuasa Hukum Padepokan 'Nur Dzat Sejati', Supriarno menegaskan bahwa padepokan yang dipimpin Gus Samsudin itu bukan ditutup.

Editor: eben haezer
tribunmataraman/imam taufiq
Rahmat Santoso, Wakil Bupati Blitar menyerahkan surat penutupan padepokan ke Priarno SH, kuasa hukum Gus Samsudin. 

Reporter: Luhur Pambudi

TRIBUNMATARAMAN.com | BLITAR - Kuasa Hukum Padepokan 'Nur Dzat Sejati', Supriarno menegaskan bahwa padepokan yang dipimpin Gus Samsudin itu bukan ditutup. Melainkan dihentikan sementara kegiatannya. 

Penegasan itu disampaikannya untuk menanggapi surat yang ditandatangani Wakil Bupati Blitar, Rahmat Santoso, Senin (9/8/2022) lalu. 

Supriarno menerangkan, pihaknya memiliki penafsiran lain mengenai adanya surat pernyataan tersebut. 

Bahwa, surat pernyataan tersebut, berisi penghentian badan hukum yayasan. Artinya, penghentian yang dimaksud adalah mengenai aktivitas atau kegiatan yang bersifat massal atau melibatkan orang banyak, bukan berisi penutupan secara permanen padepokan tersebut. 

Baca juga: Pemkab Blitar Meminta Padepokan Gus Samsudin Ditutup Sementara, Pengikutnya Diminta Pulang

Supriarno mengaku belum memperoleh keterangan resmi dari pihak Forkopimda Kabupaten Blitar ataupun Pemkab Blitar. 

"Tidak ada waktu, semakin cepat memperbaiki apa yang ada dan kurang, semakin baik untuk dibuka kembali. Surat itu surat biasa, untuk memperbaiki padepokan lebih baik. Sementara yang dikoreksi itu tidak ada pelanggaran baik positif maupun pelanggaran suatu agama tertentu," ujarnya, saat di depan Gedung Ditreskrimsus Mapolda Jatim, Jumat (12/8/2022). 

Mengenai, izin dari berdirinya padepokan tersebut. Supriarno mengaku memiliki pendapat lain bahwa belum ada regulasi yang mengatur mengenai keparanormalan. 

"Izin yang dimiliki memang pemijatan. Tetapi, kegiatan yang dilakukan Gus Samsudin itu memang tidak ada atau belum ada pemerintah menampung izin, izin paranormal belum ada, pemerintah belum menyediakan perizinan tetang paranormal," katanya. 

Kemudian, perihal adanya polemik perizinan aktivitas pondok pesantren (ponpes) dan pengobatan. 

Menurut Supriarno, hal tersebut merupakan dua hal yang berbeda. Padepokan tersebut juga menyediakan layanan pengobatan yang di dalamnya melibatkan beberapa asisten yang memiliki latar belakang sebagai santri. 

"Jadi itu pilihan. Jadi, para santri itu kebanyakan pondok pesantren. Jadi biasa suasana ponpes, kemudian kan ada lulusan pesantrennya ada pindahan status terapis yang ikut Gus Samsudin. Terbiasa kehidupan pesantren biasa disebut santri," jelasnya. 

Oleh karena itu. Ia menegaskan, tidak ada pencabutan izin atau apapun.

"(Padepokan) tetap buka, cuma tidak ada kegiatan sementara. Dan tidak ada keputusan dari pemerintah. Suratnya surat biasa bukan surat keputusan. Dan tidak ada penutupan. Pencabutan izin tidak ada, bahwa dikoreksi iya, tapi tidak ada pelanggaran," pungkasnya. 

 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved