Berita Tulungagung

Pantangan dan Sejarah Jamasan Tombak Pusaka Kanjeng Jimat Kiai Upas Tulungagung

Tombak Kiai Upas adalah tombak pusaka Tulungagung yang hanya boleh dipegang oleh Bupati selama menjabat. Inilah kisahnya

Penulis: David Yohanes | Editor: eben haezer
tribunmataraman.com/david yohanes
Bupati Tulungagung, Maryoto Birowo saat mengangkat tombak Kiai Upas, Pusaka Tulungagung 

TRIBUNMATARAMAN.com | TULUNGAGUNG - Pemkab Tulungagung telah selesai menggelar prosesi jamasan (pencucian) tombak pusaka Kanjeng Jimat Kiai Upas, Jumat (12/8/2022).

Tombak pusaka Kabupaten Tulungagung ini mempunyai sejumlah pantangan selama jamasan.

Dua pantangan di antaranya, Kiai Upas tidak mau didahului, dan tidak mau dilihat perempuan selama jamasan.

Sebagai tombak pusaka milik kabupaten, Kiai Upas harus menjadi yang pertama dijamas.

Baca juga: Jamasan Tombak Kiai Upas, Bupati Tulungagung Akan Kembalikan Tombak Pusaka ke Wisma Kanjengan

Tidak boleh ada pusaka lain, baik milik desa, milik keluarga maupun milik individu yang boleh dijamas sebelum proses jamasan Kiai Upas selesai.

Karena itu jamasan Kiai Upas ini saat yang ditunggu, sebagai penanda jamasan pusaka lainnya sudah  bisa dilakukan.

Sedangkan larangan perempuan melihat prosesi jamasan, karena diyakini Kiai Upas berjenis kelamin laki-laki.

Saat jamasan diibaratkan orang yang sedang mandi, sehingga pakaiannya harus dibuka.

Dengan demikian jika perempuan melihat prosesi jamasan, ia diibaratkan tengah mengintip laki-laki yang mandi.

Air yang dipakai jamasan pun tidak sembarang air, karena diambil dari 9 sumber berbeda di seluruh wilayah kabupaten.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved