Berita Trenggalek

Bupati Mas Ipin Resmikan Balai Rehabilitasi Adhyaksa di RSUD Trenggalek

Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin meresmikan balai rehabilitasi adhyaksa di RSUD dr Soedomo untuk menampung para pecandu narkoba

Penulis: Aflahul Abidin | Editor: eben haezer
tribunmataraman.com/aflahul abidin
Peresmian Balai Rehabilitasi Adhyaksa oleh Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin, Rabu (27/7/2022).   

TRIBUNMATARAMAN.com | TRENGGALEK - Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin meresmikan balai rehabilitasi adhyaksa di RSUD dr Soedomo, Rabu (27/7/2022).

Balai itu merupakan calon tempat rehabilitasi para pecandu narkoba.

Balai rehabilitasi adiyaksa diinisiasi oleh Kejaksaan Negeri Trenggalek untuk menampung para pecandu yang terjerat kasus hukum.

Bupati yang akrab disapa Mas Ipin itu mengatakan, banyak pecandu narkoba yang butuh bantuan rehabilitasi, alih-alih jeratan hukum.

"Kadang-kadang mereka ini kan juga korban dari pergaulan, kemudian juga mungkin ada mental health atau kesehatan mental yang terganggu. Maka ya mereka harus kita obati," kata Mas Ipin.

Ia berharap, keberadaan balai rehabilitasi adiyaksa akan menekan angka penyalahgunaan narkoba di Kabupaten Trenggalek.

Dengan direhabilitasi, ia berharap orang-orang yang terjerumus dalam penggunaan barang haram itu bisa berhenti.

Soalnya, lanjut Mas Ipin, ada banyak kasus pengguna narkoba yang berulang memakai narkoba meski telah dihukum penjara.

“Saya mengapresiasi Korps Adhyaksa, mengajak berkolaborasi pemerintah kabupaten dalam hal ini RSUD, beserta BNNK Trenggalek sehingga saat ini kita sudah punya balai rehabilitasi,” tuturnya.

Sementara itu, Kajari Trenggalek Masnur mengatakan, aturan yang ada saat ini memungkinkan penghentian perkara melalui mekanisme restorative justice (RJ) atau keadilan restoratif bagi para pecandu narkoba oleh kejaksaan.

"Bukan perkara pidana umum saja yang akan kami RJ. Tapi ke depannya juga narkoba yang termasuk pecandu," kata Masnur.

Ia mengatakan, RJ untuk kasus penyalahgunaan narkoba diharapkan dapat berdampak positif. Meski hingga saat ini, Kejari Trenggalek baru menerapkan RJ pada beberapa kasus pidana umum.

"Banyak teman kita yang sebenarnya korban, hanya pemakai, tapi ketika masuk lembaga permasyarakatan dan dipenjara, justru tambah 'pintar'," kata Masnur.

"Saat keluar, awalnya jadi perantara [narkoba]. Ketangkap lagi, masuk [penjara] lagi, keluar malah jadi bandar," sambungnya. (fla)

 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved