Berita Surabaya

LaNyalla Ujian Tesis di Unair, Bahas Pencalonan Presiden Lewat Perorangan

AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, menjalani sidang tesis untuk mendapatkan gelar magister di Sekolah Pasca Sarjana Universitas Airlangga Surabaya

Editor: eben haezer
ist
Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti saat menjalani sidang ujian tesis di Universitas Airlangga, Surabaya 

Reporter: Bobby C Koloway

TRIBUNMATARAMAN.com | SURABAYA - Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, menjalani sidang tesis untuk mendapatkan gelar magister di Sekolah Pasca Sarjana Universitas Airlangga Surabaya, Senin (25/7/2022).

Tesis Nyalla membahas soal potensi pencalonan presiden dari perorangan.

Mengambil Program Studi Magister Sains Hukum dan Pembangunan, Tesis LaNyalla berjudul ‘Pengajuan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden Jalur Non Partai Politik Sebagai Penguatan Demokrasi’.
 
LaNyalla memaparkan, sistem Demokrasi Pancasila yang dibangun para pendiri bangsa telah membuka peluang kepada siapapun untuk menjadi calon presiden dan wakil presiden.
 
Mengutip Sila keempat Pancasila, sistem pemerintahan Indonesia memberikan kepada partai politik dan unsur non-partai politik. Ini masuk dalam sistem yang direpresentasi oleh utusan daerah dan utusan golongan, untuk mengajukan calon presiden dan wakil presiden.
 
Namun, menurut Nyalla, nilai Pancasila itu telah dibajak dan diciderai sejak penggantian kontitusi pada tahun 1999-2002 " Akibatnya, hanya partai politik yang dapat mengajukan calon presiden dan wakil presiden,” kata Nyalla dikutip dari keterangan tertulis, Selasa (26/7/2022).
 
Dalam tesisnya, Nyalla menjelaskan pentingnya calon dari jalur non-partai. Dengan memberikan ruang seluas-luasnya kepada seluruh masyarakat dalam pencapresan, bangsa ini akan tetap menjalankan nilai-nilai Pancasila.

LaNyalla mengungkap adanya ruang dari peserta pemilu perseorangan untuk dapat mengusung calon. Sebab menurutnya, UUD hasil Amandemen, peserta Pemilu itu sebenarnya ada tiga.

Yakni, Partai Politik untuk DPR RI dan DPRD, Perseorangan untuk DPD RI dan Presiden/Wakil Presiden "Namun, dalam proses pencalonan presiden, hanya satu peserta pemilu yang dapat mengusung, yaitu Partai Politik,” tandasnya.
 
Salah satu strateginya dapat dilakukan melalui Amandemen ke-5. “Amandemen ke-5 rupanya sulit diwujudkan. Apalagi wacana yang ada, kalau pun Amandemen ke-5 dilakukan, hanya untuk menambahkan Pasal terkait adanya Pokok-Pokok Haluan Negara. Sama sekali tidak membicarakan hal ini,” katanya.
 
Tesis ini diharapkan dapat menambah literasi hukum tata negara, khususnya di Universitas Airlangga. “Sebagai sebuah kajian akademik strata 2, saya sudah mencoba menjelaskan mengapa kita perlu melakukan terobosan ini sebagai penguatan sistem demokrasi, khususnya demokrasi Pancasila,” pungkasnya.
 
Penguji Dr Rosa Ristawati, SH, L.LM memberi apresiasi gagasan yang diangkat LaNyalla dalam tesis kali ini. Calon independen dalam sistem presidensial menjadi alternatif menarik.
 
Di politik Indonesia, Rosa melanjutkan, ada fenomena yang disebutnya ekor jubah. Suara partai politik akan melonjak naik jika memiliki figur kepemimpinan yang kuat.

"Padahal partainya tak kuat. Nah, dalam posisi ini, calon independen bisa menjadi alternatif, karena pemilih melihat figur capres,” kata Rosa.
 
Sementara Dr Muhammad Nafik Hadi Ryandono, SE, MSi juga mengapresiasi tesis LaNyalla. Secara umum Nafik menilai tesis LaNyalla sudah sangat komprehensif dalam membahas dinamika ketatanegaraan di Republik ini.
 
"Saya kira perlu ditambahkan kesejahteraan sosial bagi rakyat Indonesia. Secara umum ini bagus, tapi ujungnya harus demi kesejahteraan rakyat. Kita sarankan setelah lulus langsung daftar S3," imbuhnya.
 
Ketua tim penguji, Dr Sukardi, SH, MH menegaskan jika tesis LaNyalla diterima oleh para dosen penguji.

Mendengar hal itu, dosen pembimbing LaNyalla, Dr Suparto Wijoyo, SH, M.Hum langsung memberi ucapan selamat kepada LaNyalla.
 
“Selanjutnya, jika ingin mengajukan S3, maka tesis ini diteruskan saja dengan tema 'pengajuan calon independen untuk penguatan demokrasi demi kesejahteraan rakyat'. Itu kelanjutan dari tesis ini," ujar Suparto.
 
Sementara Dr Radian Salman, SH, L.LM lebih ingin mendengarkan heroisme perjuangan LaNyalla dalam memperjuangkan Capres independen. Senada dengan Suparto, Radian pun menyarankan agar LaNyalla meneruskan S3.
 
"Agustus 2022 ini yudisium dan wisuda pada bulan September 2022. Segera daftarkan S3, ikut edisi September 2022 atau Februari 2023," saran Radian.  

  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved