Baku tembak antarajudan
TKP Baku Tembak Antarajudan di Rumah Dinas Kabid Propam Disinyalir Tidak Klir Sejak Hari Pertama
Karena ada konflik kepentingan, maka ada kemungkinan dua alat bukti yang dikuasai oleh Paminal itu bisa “diutak-atik.”
Penulis: Anas Miftakhudin | Editor: Anas Miftakhudin
TRIBUNMATARAMAN.COM IJAKARTA - Tim gabungan yang dibentuk Kapolri tampaknya bakal mengalami tantangan cukup keras dan berat untuk mendapatkan barang bukti.
Pasalnya, sejak Jumat (8/7) hingga Senin (11/7), TKP disinyalir tidak seperti awal (rusak).
Bahkan, garis polisi saja tidak ada sampai kemudian kasus itu ramai pada Senin (11/7).
Ini yang membuat Inafis Mabes Polri harus pontang-pantimg melakukan olah TKP sebanyak dua kali pada Rabu (13/7) lalu.
"Beberapa kali olah memang wajar untuk menemukan hal yang maksimal. Biasanya bersifat melengkapi. Tapi ini sampai dua kali dalam waktu berdekatan, tentu saja pasti ada apa-apanya,’’ kata seorang petugas yang ikut menangani kasus tersebut.
Hasil olah TKP yang kedua ini masih dilakukan pendalaman.
Sementara olah TKP pertama menghasilkan sejumlah temuan.
Yakni, pada soal jumlah proyektil. Ternyata bukan 12 seperti yang dinyatakan sebelumnya, tapi hanya sepuluh.
’Dua sisanya karena diduga lubang di tembok itu bukan peluru, namun hasil dari rikoset.
Rinciannya, enam peluru dari pistol yang diduga dipegang Brigadir J, sementara empat peluru dari pistol yang disebut dipegang oleh Bharada E.
Temuan ini cukup berbeda dengan versi awal yang menyebutkan ada tujuh tembakan yang dilepaskan Brigadir J dan lima oleh Bharada E.
’’Dari olah TKP itu menyebutkan di tubuh Brigadir J ditemukan tujuh luka masukan dan enam luka keluaran proyektil. Satu tembakan dilepaskan dari bagian belakang kepala tembus ke depan.
Alasan itu yang disebutkan Bharada E dalam keterangannya untuk memastikan tewasnya Brigadir J.
Sementara satu peluru masih bersarang di tubuh korban.
’’Ada rikoset. Contohnya, ada satu tembakan di bahu yang pelurunya masuk, kemudian mental menghantam wajahnya,’’ terangnya.
Juga tembakan Brigadir J yang menghantam wajahnya sendiri.
"Ada kesaksian yang menyebutkan bahwa setelah tertembak bagian dada, Brigadir J memegangi dadanya kemudian tak sengaja jarinya menekan pemicu, menghantam jarinya yang lain, menuju bibir kiri dan tembus ke mata kanan,’’ tambahnya.
Itulah yang membuat jari Brigadir J terluka hingga nyaris putus dan kemudian muncul di media sebagai jarinya putus tersebut.
Tim gabungan juga memeriksa hasil otopsi yang dilakukan tim dokter.

Begitu peristiwa terjadi sekitar pukul 17.00, kemudian dibawa ke RS, lalu diotopsi pada pukul 20.20.
Hasilnya, tidak ada luka sayatan.
Luka-luka ricochet, seperti di mata kanan dan jari kiwir-kiwir itu yang kemudian membuat spekulasi muncul adanya sayatan.
Sumber tersebut menjelaskan bahwa itu adalah hasil sementara.
’’Tim gabungan tidak hanya melakukan olah TKP saja. Tetapi juga analisa. Nah analisanya ini yang belum keluar,’’ terangnya.
Apalagi, sumber tersebut menyatakan bahwa sejak awal disinyalir TKP sudah “tidak bersih” lagi.
Sepanjang tiga hari sejak kejadian, TKP praktis dikuasai oleh tim Sambo meski Inafis Polrestro Jakarta Selatan sempat melakukan olah TKP.
Yang kemudian timbul pertanyaan adalah bagaimana dengan barang bukti yang bisa menjadi alat bukti? Seperti CCTV dan tiga buah ponsel milik Brigadir J?
Info yang ada menyebutkan bahwa dua alat bukti tersebut berada di tangan Paminal Div Propam Mabes Polri. Yang notabene Kadiv Propamnya adalah Irjen Pol Ferdy Sambo sendiri.
Padahal, dalam banyak kasus lainnya, CCTV dan ponsel menjadi alat bukti yang cukup kuat untuk mengungkap sebuah kejahatan.
Karena ada konflik kepentingan, maka ada kemungkinan dua alat bukti yang dikuasai oleh Paminal itu bisa “diutak-atik.”
Dari penelusuran tim gabungan, decoder CCTV yang ada di dalam rumah dinas Ferdy Sambo (CCTV ada dua, yakni di dalam rumah dan di luar rumah) yang awalnya disebut terbakar karena tersambar petir, ternyata tidak seperti itu.
Sudah diganti baru, hanya saja decoder baru ini tidak cocok dengan CCTV yang ada.
"Saya tidak tahu persisnya di mana decoder aslinya. Katanya sih seperti itu (dibawa Paminal, Red),’’ katanya.
Selain itu, tim gabungan juga menelusuri soal kemungkinan Irjen Ferdy Sambo berada di TKP saat kejadian.
Sejauh ini, kesaksiannya menyebutkan bahwa saat kejadian itu terjadi, dirinya tengah melakukan tes PCR di luar.
’’Ada kemungkinan bahwa yang bersangkutan (Sambo, Red) ada di rumah. Ada sejumlah petunjuk untuk itu, namun masih ditelusuri,’’ tandasnya.

Kadiv humas Mabes Polri Irjen Pol Dedi Prasetyo yang dihubungi Tribunmataraman.com, mengungkapkan tim yang dibentuk masih bekerja di lapangan.
"Tim masih bekerja di lapangan. Hasilnya nanti akan dievaluasi," tuturnya.
Ketika disinggung, lokasi kejadian (TKP) rusak dan decoder yang sudah diganti?
"Itu adalah bagian yang dicari oleh tim. Tim yang diketuai Pak Irwasum Komjen Pol Agung Budi Maryoto masih terus bekerja," tutur mantan Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya.
Ketika kejadian berlangsung Irjen Pol Ferdy Sambo apa ada di lokasi atau di luar.
"Yang sudah disampaikan oleh Kapolres Jakarta Selatan kan beliaunya sedang PCR," terangnya.
Apakah waktu Irjen Ferdy Sambo PCR bisa dikuatkan dengan hasilnya yang dikeluarkan dari Lab mana atau Rumah Sakit mana?
"Semuanya masih didalami oleh tim, dan terus dilakukan pendalaman," paparnya.