Nasional

Hikmahbudhi Mengkritik Kebijakan Komodifikasi dan Industrialisasi Budaya di Candi Borobudur

Ketua Umum Presidium Hikmahbudhi, Wiryawan, meminta pemerintah tak menjadikan Candi Borobudur sebagai obyek komodifikasi dan industrialiassi budaya

Editor: eben haezer
ist/tribunnews.com
Stupa-stupa di Candi Borobudur 

TRIBUNMATARAMAN.com - Pemerintah berencana menetapkan harga tiket Rp 750 ribu untuk naik ke Candi Borobudur.

Rencana ini mendapatkan kritik dari umat Budha.

Ketua Umum Presidium Pusat Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia (Hikmahbudhi), Wiryawan, meminta agar pemerintah tak menjadikan Candi Borobudur sebagai obyek komodifikasi dan industrialisasi budaya.

Baca juga: Belum Disetujui Jokowi, Soal Harga Tiket Naik Candi Borobudur Rp 750 Ribu Belum Final

Dia mengatakan, Candi Borobudur yang menjadi tempat ritual keagamaan bagi Umat Budha, terancam mengalami kerusakan.

Kata dia, berdasarkan data dari Balai Konservasi Borobudur, sebanyak 70 persen batuan di bagian tangga candi telah mengalami kerusakan. Bahkan Candi Borobudur turun 0,2 cm pertahun.

“Saya menerima banyak sekali masukan yang disampaikan oleh hampir seluruh kader hikmahbudhi se Indonesia dan dari berbagai tokoh pemuda di internal umat Buddha terkait persoalan ini," kata Wiryawan, Senin (6/6/2022).

Dia menyayangkan pernyataan Menko Luhut Binsar Panjaitan terkait harga tiketing candi Borobudur.

Dia menilai kebijakan ini sangat terburu-terburu dan mengesampingkan kepentingan umat Buddha di candi Borobudur.

“Berapapun harga yang ditetapkan oleh negara tidak akan sebanding dengan segala potensi kerusakan dan pelapukan candi sehingga memang akses naik ke atas candi harus ditutut bagi siapapun kecuali kegiatan keagamaan," ujarnya.

Baca juga: Jangan Salah Paham, Harga Tiket Masuk Candi Borobudur Tak Berubah

Sementara itu, Sekjen PP Hikmahbudhi Ravindra menyampaikan bahwa sejak awal mendapatkan status sebagai tempat peribadatan umat Buddhis di Indonesia dan dunia.

Kata dia, Candi Borobudur dikelola dengan tidak serius, cenderung normative dan asal-asalan.

“Sejak awal memang soal candi ini hanya jadi tempat pestanya para elit saja, jauh dari jangkauan masyrarakat akar rumput," tutur Ravindra.

Selain itu, dia menambahkan, nihilnya perlibatan kelompok pemuda dan mahasiswa dalam perancangan peta program terkait Candi Borobudur menjadi titik awal semerautnya pengelolaan candi ini.

 

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Hikmahbudhi Minta Jangan Ada Industrialisasi Budaya di Candi Borobudur

Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved