Berita Malang

Klarifikasi Pemilik Toko di Malang yang Dilaporkan Pegawainya Soal Tuduhan Melakukan Penyekapan

Pemilik toko di Malang mengklarifikasi jika tak pernah menyekap pegawainya selama tiga hari. 

Editor: faridmukarrom
Erwin Wicaksono/ Tribun Jatim
Tak terima dengan perlakuan majikan, GR (18) warga Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang melaporkan juragannya tersebut ke Satreskrim Polres Malang, Selasa (29/3/2022). GR datang ke Polres Malang didampingi oleh kuasa hukumnya, Agus Subiyantoro. 

TRIBUNMATARAMAN.com | MALANG - Pemilik toko di Malang mengklarifikasi jika tak pernah menyekap pegawainya selama tiga hari. 

Melalui kuasa hukumnya, Hatarto Pakpahan SH menjelaskan tuduhan GF yang disebut disekap tidak benar adanya.

"Kabar seorang karyawati diduga disekap oleh majikannya selama 10 hari karena target penjualannya tidak terpenuhi, setelah kami lakukan cek lokasi dan data-data yang ada, kami menegaskan itu tidak benar," ujar Pakpahan ketika ditemui di Polres Malang pada Jumat (1/4/2022).

Kata Pakpahan, F selaku pemilik usaha malah menemukan temuan dugaan penggelapan dana yang dilakukan karyawatinya tersebut.

Kejadian tersebut terjadi ketika GF sedang bekerja di toko milik F yang berada di Kecamatan Wajak.

"Secara pengertian sebagaimana perundang-undangan artinya disekap itu dirampas kemerdekaannya. Namun ini bermula dari perbuatan GF yang menggelapkan dana perusahaan yang mencapai Rp 800 juta," sebut Pakpahan.

Pakpahan menegaskan, GF sudah pernah menyatakan perbuatannya salah dan menyerahkan diri ke Polsek Wajak. Namun saat itu ditolak pihak Polsek Wajak karena tidak ada yang melaporkan.

"Saat itu klien kami (F) sebenarnya menahan diri waktu itu agar adanya proses damai," tuturnya.

Ilustarasi Penyekapan yang dialami oleh GR warga Kabupaten Malang
Ilustarasi Penyekapan yang dialami oleh GR warga Kabupaten Malang (Tribunnews)

Praktik yang disebutkan F terkait perbuatan GF yakni saat karyawati tersebut disematkan sebagai kepala toko yang tugasnya hanya menjual barang.

"Tapi pada ternyata praktiknya misalnya ada sebagai kepala toko yang tugasnya hanya menjual barang, ternyata praktiknya misalnya ada gula 5 ton dan yang dijual hanya 3 ton, dan yang dua ton dijual tanpa mekanisme yang sudah ada. Jadi, yang dua ton dijual pribadi dan untuk keuntungan pribadi," jelasnya.

Terkait tuduhan penyekapan, Pakpahan menerangkan GF ditempatkan di rumah F di Bululawang untuk proses diskusi terkait jalan keluar kasus penggelapan tersebut.

"Saat kejadian itu sebenarnya kata kuncinya adalah berdiskusi apakah GR mau bertanggung jawab atas konsumen yang komplain dan menuntut di rumah. Singkatnya yang bersangkutan bersedia sambil menuntun pembayaran itu diberikan," klarifikasinya.

Saat GF tinggal di rumah F, Pakpahan bercerita jika kliennya kerap mendapati GF berperilaku suka menangis dan teriak-teriak.

"Sehingga perilaku tersebut membuat keluarga F khawatir karena tinggal dengan orang yang dalam tanda petik memiliki masalah keuangan, dan benar pada malam itu kunci kamar itu digembok. Tentu karena ini ada kekhawatiran dari klien kami karena merasa berbahaya ada anak-anak, dan dikunci pada malam hari saat tidur," ungkap Pakpahan.

Halaman
123
Sumber: Surya Malang
  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved