Breaking News:

Berita Trenggalek

Berkas Perkara Guru Pesantren Cabuli Puluhan Santri di Trenggalek Telah Dilimpahkan ke Kejaksaan

Berkas perkara tahap II kasus guru pesantren cabul di Kabupaten Trenggalek dilimpahkan dari Polres Trenggalek ke Kejaksaan Negeri Trenggalek

Penulis: Aflahul Abidin | Editor: eben haezer
tribunmataraman.com/aflahul abidin
SMT, guru ponpes tersangka kasus pencabulan 34 santriwati di Kabupaten Trenggalek. 

TRIBUNMATARAMAN.com | TRENGGALEK – Berkas perkara tahap II kasus guru pesantren cabul di Kabupaten Trenggalek dilimpahkan dari Polres Trenggalek ke Kejaksaan Negeri Trenggalek, Senin (13/12/2021).

Pelimpahan itu setelah sebelumnya berkas telah dinyatakan lengkap atau P-21. Dengan pelimpahan tahap dua, tanggung jawab terhadap tersangka dan barang bukti kini berada di Kejari Trenggalek.

“[tersangka] kini tahanan penuntut umum. Jangka waktu 30 hari bisa diperpanjang, untuk persiapan pelimpahan ke Pengadilan Negeri Trenggalek,” kata Kajari Trenggalek Darfiah, melalui Kasi Intel Kejari Trenggalek Basuki Arif Wibowo.

Baca juga: 34 Santriwati Trenggalek Korban Pencabulan Oleh Guru, Dinsos Trenggalek Terjunkan Psikolog

Basuki menekankan, pihaknya kini berfokus untuk mempersiapkan proses pelimpahan tersebut.

“Saat ini tersangka kami titipkan di tahanan polres. Namun, penahanannya penahanan penuntut umum,” ungkap Basuki.

Tersangka guru pesantren cabul dalam kasus ini ialah SMT (34), warga Desa/Kecamatan Pule, Kabupaten Trenggalek.

Fakta hasil menyidikan, SMT berbuat bejat dengan mencabuli 34 korban yang semuanya adalah santriwati di pondok pesantren tempat ia mengajar. Mayoritas dari mereka adalah anak di bawah umur.

Sebelum kasusnya terbongkar September lalu, SMT telah diberhentikan dari aktivitas belajar mengajar di pondok tersebut. Sebelum itu, pencabulan itu telah ia lakukan dalam rentang waktu sekitar 3 tahun, mulai 2019.

Ia telah mengajar di ponpes tersebut sejak 2017.

Catatan Tribunmataraman menyebut, SMT memakai tipu muslihat untuk mejerat para korbannya. Ia memanfaatkan posisinya sebagai guru untuk mengintimidasi para korban.

Setiap kali hendak menjalankan aksinya, ia terlebih dulu mewanti-wanti para korban agar menuruti keinginannya karena ia seorang guru. 

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved