Press Release

Dua Polisi yang Menganiaya Jurnalis Nurhadi Dituntut 1 Tahun 6 Bulan Penjara

Dua polisi yang jadi terdakwa dalam perkara penganiayaan terhadap jurnalis Tempo di Surabaya, Nurhadi, dituntut masing-masing 1 tahun 6 bulan penjara

Editor: eben haezer
ist/AJI Surabaya
Firman Subkhi (kiri) dan Purwanto, dua anggota Polri yang jadi terdakwa dalam penganiayaan terhada jurnalis Tempo, Nurhadi, saat mendengar jaksa membacakan tuntutan di PN Surabaya,, Rabu (1/12/2021) 

TRIBUNMATARAMAN.com | SURABAYA - Dua polisi yang menjadi terdakwa dalam perkara penganiayaan terhadap jurnalis Tempo di Surabaya, Nurhadi, dituntut masing-masing 1 tahun 6 bulan penjara, Rabu (1/12/2021).

Dalam sidang di PN Surabaya, jaksa penuntut umum, Winarko, juga meminta agar kedua terdakwa tersebut, Purwanto dan Firman Subkhi, ditahan.

Winarko menyatakan, dua terdakwa terbukti bersalah melanggar pasal 18 ayat (1) UU no.40 tahun 1999 tentang Pers, juncto pasal 55 ayat (1) KUHP, serta pasal 4 ayat 2 dan ayat 3 UU Pers.

Selain itu, kedua terdakwa juga diwajibkan membayar restitusi yang diajukan Nurhadi dan F, rekannya yang menjadi saksi kunci dalam perkara ini.

Pengajuan restitusi ini diajukan Nurhadi dan F melalui LPSK (Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban).

Untuk Nurhadi, restitusi yang diajukan adalah sebesar Rp 13.813.000. Sedangkan untuk F, restitusi yang diajukan adalah sebesar Rp 42.650.000.

"Apabila tidak dibayar, diganti dengan hukuman kurungan selama 6 bulan," kata jaksa Winarko. 

Ditemui seusai persidangan, jaksa Winarkoa mengatakan bahwa pasal-pasal lain yang sebelumnya disebut dalam dakwaan, yakni pasal 170 KUHP tentang pengeroyokan, pasal 351 ayat 1 KUHP tentang penaniayaan, dan pasal 335 ayat 1 tentang perbuatan tidak menyenangkan, tidak dimasukkan dalam tuntutan.

"Karena UU Pers ini lex specialis, sehingga tindakan penganiayaan dan pengeroyokan itu bisa dianggap sebagai bagian dari penghalang-halangan terhadap pers seperti disebutkan dalam pasal 18 UU Pers nomor 40 tahun 1999," kata Winarko.

"Karena korbannya dalam perkara ini adalah jurnalis. Beda lagi kalau korbannya bukan jurnalis, maka tidak dikenai UU Pers," sambungnya.

Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Sasmito Madrim, merespon tuntutan tersebut. Dia mempertanyakan alasan jaksa tidak menjadikan status kedua terdakwa yang merupakan anggota Polri, sebagai pemberat.

"Seharusnya, status mereka sebagai anggota Polri itu dijadikan salah satu alasan pemberat. Karena yang mereka lakukan telah mencoreng institusi Polri," kata Sasmito yang menyaksikan langsung sidang tersebut di PN Surabaya.

Sementara itu, dari berbagai kota di Indonesia, dukungan agar jaksa mengajukan tuntutan maksimal kepada dua terdakwa, terus mengalir.

Di Surabaya, Mandar, Jakarta, Semarang, Kendari, Medan, Denpasar, Bandar Lampung, Mandar, Lhokseumawe, dan kota-kota lain, jurnalis menggelar aksi solidaritas sejak kemarin 

Selain mendesak agar jaksa mengajukan tuntutan maksimal, mereka juga mendesak Polri mengusut tuntas seluruh pelaku penganiayaan terhadap jurnalis Nurhadi yang sampai kini belum diselidiki.

  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved