Breaking News:

Berita Tulungagung

Petani Bawang Merah Tulungagung Menjerit, Panen Lebih Cepat Akibat Terendam Air Harga Jual Hancur

Bawang merah dipanen lebih cepat supaya tidak membusuk. Harga jualnya pun hancur hingga membuat para petani memilih membawa pulang hasil panennya.

Penulis: David Yohanes | Editor: Anas Miftakhudin
TribunMataraman.com/David Yohanes
Petani bawang merah di Desa Junjung, Kecamatan Sumbergempol menggunting daun dan akar hasil panennya agar laku lebih mahal. 

TRIBUNMATARAMAN.COMI TULUNGAGUNG- Sanik (60) dengan cekatan menggunting bagian akar dan daun bawang merah yang mengering.

Setiap butir bumbu dapur ini dibersihkan dengan teliti agar terpisah dengan bagian sampah.

Pekerjaan ini dilakukan petani bawang merah asal Dusun Kedungjalin, Desa Junjung, Kecamatan Sumbergempol ini terhadap hasil panennya yang kebanjiran.

Karena telah terendam air, bawang merah dipanen lebih cepat supaya tidak membusuk.

Harga jualnya pun hancur hingga membuat para petani memilih membawa pulang hasil panennya.

“Biasanya pedagang datang ke sawah, langsung dibeli di sawah. Sekarang gak ada harganya, lebih baik dibawa pulang,” ujar Sanik.

Ia mengungkapkan, dari tanah seluas 60 Ru biasanya dibeli pedagang Rp 23 juta hingga Rp 25 juta.

Namun kini setelah dibawa pulang, seorang pedagang menawar seluruh hasil panennya hanya Rp 2.000.000 saja.

Sanik pun memilih menyalonkan bawang merahnya, membersihkan dari daun dan akar agar lebih laku dijual.

“Kalau sudah dibersihkan begini harga jualnya bisa mencapai Rp 10.000 per kilogram. Lebih menguntungkan dibanding borongan,” sambungnya.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved