Rabu, 6 Mei 2026

Weekend

Tradisi Makan Nasi Liwetan, Cara Santri di Kediri Menjalin Kebersamaan 

Pada tradisi Liwetan, para santri dan pengasuhnya makan bersama sambil duduk lesehan. Nasi Liwetan ini terdiri lauk pauk ayam, telur, dan sayur urap

Tayang:
Penulis: Didik Mashudi | Editor: eben haezer
tribunmataraman.com/didik mashudi
Para kiai pengasuh pondok pesantren menghadiri tradisi makan nasi Liwetan di Ponpes Al Amin, Kota Kediri, Sabtu (6/11/2021) malam. 

TRIBUNMATARAMAN.com | KEDIRI - Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Hari Santri yang digelar PCNU Kota Kediri dimeriahkan dengan tradisi Liwetan atau makan nasi bersama-sama di atas daun pisang di Aula Ponpes Al Amin, Sabtu (6/11/2021) malam.

Kegiatan ini dihadiri para pengasuh pondok pesantren di antaranya, Gus Lik, Gus Reza, KH Abu Bakar Abdul Jalil serta pengurus cabang dan ranting NU se Kota Kediri.

Pada acara itu disampaikan tausiyah oleh KH Anwar Iskandar, pengasuh Ponpes Al Amin.

Baca juga: Banyuwangi Hadirkan Atraksi Musik Jazz di Kebun Durian

Kegiatan Liwetan di kalangan pondok pesantren sempat vakum saat Pandemi Covid 19 di Kota Kediri berada level 4. 

Setelah levelnya turun dan masyarakat telah mendapatkan vaksinasi Covid 19 kegiatan Liwetan kembali digelar.

Pada tradisi Liwetan, para santri dan pengasuhnya makan bersama sambil duduk lesehan. Nasi Liwetan ini terdiri lauk pauk ayam, telur, sayur urap dan sambal goreng.

Para undangan terlihat akrab dan menikmati nasi liwet bersama-sama dengan duduk lesehan melingkar. Menyantap nasi liwet bersama-sama dirasakan sangat nikmat.

Ketua PC NU Kota Kediri, KH Abu Bakar Abdul Jalil menjelaskan,  Liwetan merupakan tradisi dan ciri khas cara makan santri di pondok pesantren.

Kegiatan ini diselenggarakan sebagai akhir dari rangkaian peringatan Hari Santri yang digelar PCNU Kota Kediri

"Dengan masak sendiri, santri diajari untuk mandiri, diharapkan kedepannya santri saat di tengah masyarakat juga bisa mandiri," ungkapnya.

Selain itu juga menjaga kebersamaan makan dalam satu wadah. Dalam satu wadah ada 4 sampai 5 orang santri yang makan bareng. 

"Itu namanya kebersamaan dan persamaan derajat antara satu santri dan lainnya tidak ada bedanya," jelasnya.

Liwetan juga sebagai pembelajaran untuk proses sabar. Karena saat santri memasak nasi liwet butuh waktu lama sehingga butuh kesabaran.

"Artinya kesuksesan tidak akan bisa tiba-tiba bisa diraih secara pragmatis dan instan, tapi harus berusaha dan butuh waktu," jelasnya.

Sementara Nur Muhyar, panitia kegiatan menjelaskan, PCNU dan pondok pesantren di Kota Kediri menggelar peringatan Hari Santri Nasional.

Kegiatannya ada keagamaan, upacara serta kegiatan kreatif lainnya. Selama ini pondok pesantren dan PCNU Kota Kediri telah banyak berbuat saat Pandemi Covid 19 seperti sosialisasi pemakaian masker dan protokol kesehatan.

Selain itu pondok pesantren juga aktif mengikuti kegiatan vaksinasi bersama masyarakat serta melakukan bakti sosial.

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved