Breaking News:

Berita Trenggalek

Berbagai Elemen di Kabupaten Trenggalek Harus Berkolaborasi Melawan Pernikahan Anak

“Mari sama-sama mengupayakan stop pernikahan anak di Kabupaten Trenggalek. Kami mengajak semua pihak untuk berkolaborasi," kata Novita Hardini

Penulis: Aflahul Abidin | Editor: eben haezer
tribunmataraman.com/aflahul abidin
Ketua Forum Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak (Puspa) Kabupaten Trenggalek, Novita Hardini saat mengikuti Kampanye Pencegahan Pernikahan Anak yang digelar oleh PD Nasyiatul Aisyiyah Trenggalek di Pendopo Manggala Praja Nugraha, Rabu (3/11/2021). 

TRIBUNMATARAMAN.COM | TRENGGALEK – Berbagai elemen masyarakat harus berkolaborasi untuk melawan pernikahan anak di Kabupaten Trenggalek.

Dari berbagai studi, pernikahan anak menimbulkan banyak dampak negatif. Salah satunya risiko stunting terhadap anak yang akan dilahirkan kelak.

Hal tersebut mengemuka dalam diskusi Kampanye Pencegahan Pernikahan Anak yang digelar oleh PD Nasyiatul Aisyiyah Trenggalek di Pendopo Manggala Praja Nugraha, Rabu (3/11/2021).

Ketua Forum Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak (Puspa) Kabupaten Trenggalek, Novita Hardini mengatakan, dampak negatif pernikahan anak cukup luas.

Tidak hanya di tingkat keluarga, dampak itu juga akan berpengaruh hingga tingkat pemerintahan di Kabupaten Trenggalek.

“Mari sama-sama mengupayakan stop pernikahan anak di Kabupaten Trenggalek. Kami mengajak semua pihak untuk berkolaborasi, bekerja sama, dan mengampanyekan pencegahan pernikahan dini,” sambung Novita.

Ia menjelaskan, kampanye antipernikahan dini bisa dimulai dengan pemahaman kepada para orang tua. Pasalnya, tak sedikit kasus pernikahan anak yang bermula dari keinginan sang orang tua.

“Di sini pentingnya pemahaman psikologi, baik kepada orang tua maupun kepada sang anak,” tutur dia.

Selain itu, perlu juga edukasi dan pembukaan wawasan kepada para anak agar mereka menghindari pernikahan dini, yakni di bawah 19 tahun. Sebab, lanjut Novita, mereka akan berisiko menghadapi persoalan yang bisa berujung pada keretakan rumah tangga.

Pihaknya juga mengajak seluruh pihak untuk bijak terkait penggunaan internet bagi para anak-anak. Akses internet yang mudah bisa berbuah positif maupun negatif.

“Saya mengajak kepada seluruh orang tua untuk mendampingi anaknya bisa mengakses internet dengan tepat. Dengan begitu kita bisa menyerap dampak positif dari internet itu. Termasuk setiap orang tua, dari internet itu kita bisa belajar ilmu-ilmu parenting secara baik dan benar," tutur dia.

Terakhir, istri Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin itu mengajak para orang tua untuk menganggap pernikahan dini bukan sebagai budaya.

“Jangan menganggap pernikahan itu dianggap sebagai sebuah kehalalan guna menghindari dosa atau maksiat, tapi kita anggap pernikahan itu adalah sarana membangun Indonesia itu lebih baik dari satu keluarga,” pungkasnya. 

 

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved