Breaking News:

Berita Nganjuk

Pemkab Nganjuk Bebaskan Biaya Perawatan Warga yang Keracunan Makanan Saat Hajatan Pernikahan

Pemkab Nganjuk membebaskan biaya perawatan medis terhadap para korban dugaan keracunan makanan hajatan pernikahan

Penulis: Ahmad Amru Muiz | Editor: eben haezer
tribunmataraman.com/ahmad amru muiz
Plt Bupati Nganjuk, H Marhaen Djumadi saat membesuk warga yang diduga keracunan makanan hajatan dan masih dirawat di RSUD Kertosono Nganjuk. 

TRIBUNMATARAMAN.com | NGANJUK - Pemkab Nganjuk membebaskan biaya perawatan medis terhadap para korban dugaan keracunan makanan hajatan pernikahan di Kelurahan Banaran Kecamatan Kertosono Kabupaten Nganjuk.

Dimana sebanyak 25 orang sempat menjalani perawatan di RSUD Kertosono karena mengalami pusing, mual, muntah, dan diare.

Plt Bupati Nganjuk, H Marhaen Djumadi mengatakan, dari 25 orang diduga keracunan makanan dari hajatan pernikahan tersebut saat ini tinggal 12 orang yang dirawat di RSUD Kertosono. Dan hari ini 11 orang diantaranya sudah diperbolehkan pulang setelah kondisinya membaik.

Baca juga: Diduga Keracunan Makanan Dari Hajatan Pernikahan, 19 Warga Di Nganjuk Dibawa Ke Rumah Sakit

"Alhamdulillah sudah pada sembuh semua yang diduga keracunan makanan hajatan pernikahan, dan tinggal satu korban yang dirawat karena masuk masuk ke RSUD Kertosono tadi pagi. Semoga warga tersebut segera sembuh setelah menjalani perawatan," kata Marhaen Djumadi usai menjenguk para korban dugaan keracunan makanan di RSUD Kertosono, Kamis (28/10/2021).

Dibebaskannya biaya perawatan dan pengobatan para korban dugaan keracunan makanan hajatan di RSUD Kertosono, dikatakan Marhaen Djumadi, dikarenakan kejadian tersebut sebagai musibah. Dan para korban sendiri juga sudah menerima kalau apa yang dialaminya tersebut sebagai musibah sehingga juga telah memaafkan warga yang menggelar hajatan pernikahan tersebut.

"Melihat hal itu tidak salah bila Pemkab membebaskan biaya perawatan semua warga yang diduga menjadi korban keracunan makanan hajatan," ucap Marhaen Djumadi.

Mengenai izin menggelar hajatan pernikahan dalam masa PPKM Level 1 di Kabupaten Nganjuk, ungkap Marhaen Djumadi, pihaknya masih melakukan berkoordinasi dengan tim Satgas Penanganan Covid-19.

Tetapi yang jelas karena Kabupaten Nganjuk masuk zona kuning dan level 1 PPKM maka warga telah diberikan kelonggaran untuk menggelar kegiatan hajatan pernikahan dengan tetap mematuhi Protokol kesehatan dan undangan dalam jumlah terbatas.

"Kami kira begitulah kondisinya, kita belum bisa mengambil kesimpulan adanya pelanggaran dalam gelaran hajatan pernikahan sekarang ini," ujar Marhaen Djumadi.

Sementara Kapolsek Kertosono, Kompol Pramono menjelaskan, pihaknya akan memeriksa lima orang saksi dari kejadian dugaan keracunan makanan hajatan pernikahan di Kelurahan Banaran Kecamatan Kertosono. Dimana baru empat orang saksi yang diperiksa dan semuanya merupakan juru masak makanan dalam hajatan pernikahan tersebut.

"Untuk hasil pemeriksaan terhadap keempat saksi tersebut kami belum mengetahuinya," kata Pramono.

Sedangkan Kapolres Nganjuk, AKBP Jimmy Tana menjelaskan, dalam kasus dugaan keracunan makanan hajatan pernikahan tersebut pihaknya cukup hati-hati. Ini dikarenakan belum diketahui hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sisa makanan dalam hajatan pernikahan yang digelar salah satu warga di Kelurahan Banaran tersebut.

"Kasus ini belum kami tingkatkan ke penyidikan, mengingat hasil uji laboratorium dari Dinas Kesehatan Kabupaten Nganjuk belum keluar. Untuk itu diperlukan kehati-hatian agar tidak terjadi salah langkah alam menangani kasus tersebut," kata Jimmy Tana.

Dari data kasus dugaan keracunan makanan hajatan pernikahan yang dikumpulkan Polres Nganjuk, dikatakan Jimmy Tana, setidaknya ada 51 warga yang diduga mengalami keracunan makanan hajatan tersebut. Mereka mengalami muntah, pusing, mual, dan diare. Ke 51 warga tersebut sebanyak 16 warga sempat dirawat di RSUD Nganjuk, 4 orang dirawat di klinik PG Lestari Patianrowo Nganjuk, sebanyak 27 orang rawat jalan dan sembuh 3 orang. Dan satu orang warga meninggal dunia.

"Data tersebut saat ini masih terus kita update karena dimungkinkan masih ada tambahan warga yang baru merasakan sakit diduga akibat keracunan makanan hajatan," tutur Jimmy Tana. 

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved