Parenting

Pahami dan Waspadai Tanda-tanda Anak Sudah Mulai Kecanduan Internet

Di masa pandemi, terjadi lonjakan jumlah anak yang mengalami kecanduan atau adiksi internet. Berikut gejala-gejala anak mengalami adiksi internet.

Penulis: eben haezer | Editor: eben haezer
ist/connections academy
Ilustrasi 

TRIBUNMATARAMAN.com | JAKARTA - Masa pandemi covid-19 menyebabkan anak-anak makin intens beraktivitas di dunia maya. Hal ini membuka lebar-lebar peluang anak-anak mengalami kecanduan internet.

Menurut dr Kristiana Siste, Ahli Adiksi Perilaku, di masa pandemi, terjadi lonjakan jumlah anak yang mengalami kecanduan atau adiksi internet.

Dia menyebut, selama pandemi, prevalensi kecanduan internet sebesar 19 persen. Itu berdasarkan penelitian yang dilakukan pada 2020.

“Di masa pandemi, semua orang terpaksa menggunakan internet, termasuk remaja dan dewasa muda. Untuk mengurangi stres, mereka lari ke internet. Di masa pandemi ini, kami melakukan penelitian terhadap sekitar 2.700 remaja dari 34 provinsi di Indonesia. Hasilnya, hampir 20 persen remaja Indonesia kecanduan internet,” ujar Kristiana Siste dalam jumpa pers gerakan JAGOAN (Jauhkan Adiksi Gawai, Optimalkan Potensi Anak) yang digelar Yayasan Sejiwa (Semai Jiwa Amini), Sabtu (2/10/2021).

jumpa pers yayasan Sejiwa
Jumpa pers virtual yang digelar Yayasan Sejiwa

Baca juga: JAGOAN, Gerakan Yayasan Sejiwa dan 45 Mitra Untuk Hindarkan Anak Dari Adiksi Gawai

Dia menambahkan, sebenarnya penelitian serupa pernah digelar pada 2019 terhadap 600 remaja SMP di Jakarta. Saat itu, pandemi covid-19 belum menerjang Indonesia.

“Hasilnya saat itu yang mengalami adiksi internet sebesar 31,4 persen,” sambungnya.

Kepala Departemen Psikiatri FK UI - RSCM ini mengatakan, terjadinya adiksi internet bisa terjadi karena banyak hal. Salah satunya pola asuh. Dia menyebut, banyak orangtua yang merasa apabila anaknya sejak dini sudah diperkenalkan dengan gawai, maka di masa depan anak tersebut akan menjadi anak yang cerdas, canggih, dan tak gagap teknologi.

“Risiko kecanduan internet makin tinggi lagi karena anak-anak akhirnya mengenal game online. Ini adalah arena di mana mereka merasa memiliki otonomi sendiri, bisa memilih avatar, jalan cerita, dan bebas hendak menjadi apa. Di game online, mereka juga bisa kontak dengan kawan-kawannya dari berbagai negara. Hal lain yang membuat game online menjadi candu, karena ada kompetisinya. Ini membuat merasa eksis,” urainya.

Kelompok Rentan

Kristiana menyebutkan, anak-anak yang rentan mengalami adiksi internet adalah anak-anak yang memiliki masalah depresi, kecemasan, dan citra diri yang rendah.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved