Press Release

JAGOAN, Gerakan Yayasan Sejiwa dan 45 Mitra Untuk Hindarkan Anak Dari Adiksi Gawai

Yayasan Sejiwa (Semai Jiwa Amini) meluncurkan Gerakan JAGOAN (Jauhkan Adiksi Gawai, Optimalkan Potensi Anak) di Jakarta, Sabtu (2/10/2021).

Penulis: eben haezer | Editor: eben haezer
ist
Jumpa pers virtual yang digelar Yayasan Sejiwa 

TRIBUNMATARAMAN.com | JAKARTA - Yayasan Sejiwa (Semai Jiwa Amini) meluncurkan Gerakan JAGOAN (Jauhkan Adiksi Gawai, Optimalkan Potensi Anak) di Jakarta, Sabtu (2/10/2021).

Gerakan ini didukung oleh Kominfo, Siber Kreasi, Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Pusat Penguatan Karakter (Puspeka)
Kemendikbudristek, Divisi Psikiratri Adiksi dan 47 mitra seluruh Indonesia.

“Kami ingin menyelamatkan anak-anak Indonesia dari kecanduan gawai yang saat ini kondisinya sudah sangat kritis, “ujar Diena Haryana, Pendiri Yayasan SEJIWA.

Survei yang dilakukan oleh Dr. dr. Kristiana Siste, SpKJ dan tim terhadap 643 remaja di Jakarta menemukan kondisi kejiwaan anak-anak yang memprihatinkan.

Disebutkannya, ada sebanyak 31,4% remaja mengalami kecanduan internet. Sebanyak 67,2% remaja menggunakan internet lebih dari 20 jam perminggu dan 96,9% mengaksesnya melalui gawai pintar pribadi, dan 91,1% mengakses dari rumah.

Akibatnya, sebanyak 56,3% remaja memiliki masalah perilaku dan 48,2% memiliki masalah depresi.

“Kondisi ini tentu perlu menjadi perhatian semua orang, baik dari pemerintah, tenaga kesehatan, lembaga masyarakat, sekolah, orang tua, serta remaja dan dewasa muda itu sendiri. Hal ini harus diintervensi segera karena kecanduan internet menimbulkan dampak negatif bagi otak, fisik, kesehatan jiwa, dan sosial,”ujar dr. Siste.

Baca juga: Pahami dan Waspadai Tanda-tanda Anak Sudah Mulai Kecanduan Internet

“Orang dengan kecanduan internet mengalami perubahan di otak yaitu terjadinya penurunan konektivitas fungsional otak antara area parietal lateral dan korteks prefrontal lateral. Hal ini menyebabkan seseorang sulit membuat keputusan, sulit konsentrasi dan fokus, pengendalian diri buruk, prestasi menurun, penurunan kapasitas proses memori, serta kognisi sosial negatif,” tegas dr Siste.

Bonifasius Wahyu Pudjianto, Direktur Pemberdayaan Informatika Kementerian Kominfo juga mengajak para orang tua dan tenaga pendidik untuk ikut turut serta dalam proses transformasi digital.

“Mari kita dampingi dan arahkan anak-anak supaya bisa menjalankan kehidupan yang seimbang, yang akan bisa membuat mereka bertumbuh kembang dengan optimal, “ ujarnya.

Kementerian Kominfo bersama mitra jejaring Siberkreasi secara masif juga melakukan literasi digital kepada seluruh lapisan masyarakat termasuk didalamnya orang tua, tenaga pendidik, dan pelajar untuk dapat menjadi warganet yang semakin cakap digital.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan pentingnya orang tua berperan aktif dalam memastikan anak menggunakan media digital secara proporsional, sehat dan positif.

“Ini untuk menjaga agar usia anak tidak rentan terpapar dampak negatif media digital. KPAI juga terus mendorong pemerintah untuk
memastikan semua media platform menyesuaikan dengan peraturan perundang- undangan yang berlaku dan memastikan proteksi terhadap anak sebagai pengguna, sehingga usia anak tidak rentan terpapar konten negatif. Kami sangat mengapresiasi
SEJIWA sebagai bagian dari civil society dan seluruh mitra atas inisiatif meluncurkan program JAGOAN ini”, papar Susanto.

Pemerhati pendidikan dan pakar pendidikan karakter, Doni Koesoema A, menyatakan bahwa keseimbangan hidup dalam menyelaraskan antara dunia digital dan real menjadi dasar dari pertumbuhan individu yang baik dan sehat.

“Dunia digital adalah bagian dari hidup anak-anak Indonesia saat ini. Meskipun teknologi digital adalah alat, namun sudah
menjadi bagian hidup dan eksistensi manusia. Maka, para guru perlu mendidik anak-anak Indonesia pada satu dunia yang utuh. Bukan memisahkan antara digital dan real,”ujar Doni.

“Anak-anak perlu dilatih mempergunakan gawai demi kebaikan, pengembangan diri, pertumbuhan karakter, dan pengembangan nilai-nilai luhur yang akan menjadikan mereka sebagai anak Indonesia yang sehat, cerdas, dan berbudi pekerti luhur,”tegas Doni.

Inisiator gerakan ini, Diena Haryana berharap agar gerakan ini dapat melahirkan generasi yang unggul dan tangguh.

“Kita punya janji untuk menjaga Indonesia.  Tugas kita adalah meyakinkan bahwa para penerus kita adalah sosok-sosok yang unggul dan tangguh menjadi bangsa besar menuju Indonesia maju. Kita punya tanggung jawab besar untuk mengatasi adiksi gawai ini bersama-sama,” tegas Diena

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved